c2j6SXjIrFsjcFJNtYNZY7N6DLIzYqGnmADvhynO

Strategi Belajar dari Rumah Dengan dan Tanpa Internet di Tahun Ajaran Baru 2020/2021

Belajar jarak jauh merupakan hal baru, tak sedikit guru dan kepala sekolah mengalami kebingungan menyelenggarakan belajar dari rumah.


Akhirnya yang terjadi, guru memberi penugasan yang sekadar mengisi waktu seperti meringkas atau mengerjakan soal-soal di buku paket. Namun, Covid-19 setidaknya telah memberikan sebuah pembelajaran kepada para pendidik selama PSBB ini bagaimana menyusun strategi lebih baik dalam BDR (belajar dari rumah) menghadapi tahun ajaran baru nanti.

DOWNLOAD JUKNIS PPDB TAHUN 2020/2021 KLIK DISINI

Pembelajaran dari rumah, menurut penulis bisa dipilah menjadi dua bentuk: belajar dengan penugasan dan belajar jarak jauh/daring. Keduanya dilakukan demi pencegahan penularan Covid-19.

Belajar Berbasis Penugasan 


Belajar dengan penugasan dilakukan sebagai jalan keluar menghadapi sejumlah keterbatasan yang dimiliki guru, orangtua, maupun siswa menyelenggarakan belajar daring.

Tak banyak guru yang terbiasa dengan pembelajaran daring. Tak semua orangtua dan siswa memiliki perangkat komunikasi (android) atau kemudahan mengakses sinyal internet. Meskipun begitu tak sedikit pilihan sekolah untuk bisa menyelenggarakan belajar dari rumah dengan penugasan. Lalu apa pilihannya?

1. Pengaturan waktu dan jarak di sekolah

Kepala sekolah bisa mengatur penjadwalan pengambilan tugas di sekolah dari guru untuk siswa. Kelas dan Rombongan Belajar (Rombel) diatur terpisah waktu dan jarak saat pengambilan tugas.

Waktunya diatur perhari, pertiga hari, atau mingguan. Tugas dari guru kepada para siswa diambil oleh orangtua siswa, agar lebih mudah pengaturan jarak antar orang.

Pilihan ini bisa dilakukan dengan asumsi bahwa sekolah cukup dekat dengan rumah para siswa, berada dalam satu desa.

2. Membuat kotak penugasan di kantor desa/kelurahan

Jika sekolah berada di luar desa, apalagi berada di kota kecamatan, sekolah bisa bekerja sama dengan pemerintahan desa dan kelurahan untuk membuka kotak penugasan di kantor desa/kelurahan. Teknisnya, guru akan mengantar tugas-tugas yang diberikan kepada para siswa ke kantor desa/kelurahan dengan meletakkan di kotak penugasan setiap tiga hari atau setiap minggu sekali, orangtua atau siswa hanya perlu mengambilnya tugas-tugas tersebut di kotak penugasan.

Pun begitu dengan hasil penugasan/karya siswa, bisa bisa diletakkan di kotak penugasan, setiap tiga hari atau satu minggu sekali guru dapat mengambilnya. Guru, orangtua, dan siswa harus tetap menjalankan protokol pencegahan yang disarankan pemerintah.

Menghindarkan dokumen-dokumen tugas dan hasil kerja siswa dari paparan Covid-19, termasuk selalu mencuci tangan setelah maupun sebelum bersentuhan dengan dokumen dimaksud dan mensterilkan dokumen.

3. Memanfaatkan jasa pengantaran pos

Sekolah-sekolah yang letaknya lebih jauh dari rumah siswa, misalnya lintas kecamatan, bisa bekerjasama dengan PT Pos Indonesia kantor kecamatan.

Pada bagian kerja sama penyelenggaraan belajar dari rumah dengan PT Pos Indonesia dan dinas pendidikan bisa memfasilitasi bentuk kerja samanya. Secara teknis distribusi penugasan tak berbeda dengan model kotak penugasan di kantor desa/kelurahan.

Pembelajaran Berbasis Daring


Menyelenggarakan belajar jarak jauh membutuhkan perhitungan yang matang. Semua aspek penyelenggaraan belajar jarak jauh perlu diidentifikasi. Kepala sekolah perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut sebelum memutuskan pilihan menyelenggarakan model pembelajaran jarak jauh.

1. Memetakan potensi dan tantangan

Pertama, berapa banyak guru, orangtua, dan siswa yang menggunakan android; bisa mengakses sinyal; dan memiliki kuota internet? Berapa guru yang biasa dan yang tidak biasa menggunakan portal pembelajaran online? Para guru yang tidak biasa dengan pembelajaran daring tetap menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh atau bisa memberikan penugasan?

2. Kolaborasi dan integrasi

platform belajar Kedua, apakah akan menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh secara mandiri atau bergabung dengan pembelajaran jarak jauh yang diselenggarakan oleh lembaga lainnya, misalnya: portal Dinas Pendidikan; portal Kemenag, portal Rumah Belajar; Ruang Guru; dan lain-lain? Jika menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh secara mandiri, aplikasi apa yang akan digunakan: WAG, Group Facebook, Group Messenger, Google Classroom, Zoom Meeting, Webex, Jitsi, dan lain-lain?

3. Persiapan guru

Ketiga, berapa guru yang bisa mendesain pembelajaran jarak jauh secara interaktif, menyenangkan, dan menantang? Berapa yang mampu membuat soal-soal yang bersentuhan dengan kehidupan sehari-hari siswa? Bagi guru-guru yang belum bisa menyiapkan RPP jarak jauh, apakah apa pilihannya?

4. Proses asesmen

Keempat, apakah laporan hasil belajar siswa dikirim kepada guru, kapan? Cukup menjadi portofolio siswa dan sebagai sumber belajar di rumah? Laporan dalam bentuk apa: foto, video, rekaman suara, laporan naratif/tulisan, gambar/komik, dan lain-lain?

5. Pengawasan sekolah

Kelima, bagaimana kepala sekolah memonitor pembelajaran jarak jauh: masuk saat kelas berlangsung, melakukan daily check setiap pagi dan sore hari, atau weekly check? Atau kombinasi di antara pilihan-pilihan tersebut?

6. Supervisi akademik

Keenam, apakah kepala sekolah akan melakukan supervisi akademik, mengikuti model supervisi akademik formal seperti dalam pembelajaran tatap muka atau membuat pendekatan berbeda? Apakah pendekatan berbeda perlu konsultasikan dengan pengawas sekolah? Perangkat apa yang cocok untuk supervisi akademik jarak jauh?

7. Anggaran dan pelibatan stake holder

Ketujuh, apakah perlu mereviu Rencana Kegiatan dan Aggaran Sekolah (RKAS) tahun berjalan untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran jarak jauh? Apa dukungan dan bantuan yang dibutuhkan sekolah untuk menyelenggarakan belajar jarak jauh dari dinas pendidikan dan masyarakat?

Keberhasilan mengidentifikasi daya dukung sekolah membuat pilihan-pilihan penyelenggaraan belajar dari rumah semakin terbuka. Sekolah juga memiliki peluang bekerja sama dengan berbagai pihak dalam menyelenggarakan pembelajaran di tengah upaya pencegahan penularan Covid-19.

Merujuk kepada hal di atas, terlihat kepala sekolah adalah kunci efektifitas pembelajaran yang sedang menjadi kecenderungan di tengah pandemi ini. (sumber : kompas.com)
Baca Juga
Arini
Hanyalah seorang pendidik dan menjalani profesi sebagai blogger biasa yang bercita-cita tinggi dan berusaha mencari hal yang baru.
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Posting Komentar